Kamis, 09 Mei 2013

Bapak Tua Penjual Amplop



Renungan hidup buat kita semua... 

Setiap kali menuju ke Mesjid untuk shalat Dzuhur, saya selalu melihat seorang bapak tua yang duduk terpekur di depan dagangannya. Dia menjual kertas amplop yang sudah dibungkus di dalam plastik. Sepintas di lihat, barang jualannya itu terasa “aneh” di antara pedagang lain yang memenuhi pasar di Lubuk Alung setiap hari Selasa.

Pedagang di pasar Lubuk Alung umumnya berjualan makanan, pakaian, DVD bajakan, barang mainan anak, sepatu dan barang-barang asesori lainnya. Tentu agak aneh dia “nyempil” sendiri menjual amplop, barang yang tidak terlalu dibutuhkan pada zaman yang serba elektronis seperti saat ini. Masa kejayaan pengiriman surat secara konvensional sudah berlalu, namun bapak itu tetap menjual amplop. Mungkin bapak itu tidak mengikuti perkembangan zaman, apalagi perkembangan teknologi informasi yang serba cepat dan instan, sehingga dia pikir masih ada orang yang membutuhkan amplop untuk berkirim surat.

Kehadiran bapak tua dengan dagangannya yang tidak laku-laku itu menimbulkan rasa iba. Siapa sih yang mau membeli amplopnya itu? Tidak banyak orang yang lewat menuju masjid tertarik untuk membelinya. Lalu lalang orang yang bergegas menuju masjid seolah tidak mempedulikan kehadiran bapak tua itu.

Kemarin ketika hendak shalat Jumat di Mesjid itu saya melihat bapak tua itu lagi sedang duduk terpekur. Saya sudah berjanji dalam hati akan membeli amplopnya itu usai shalat, meskipun sebenarnya saya tidak terlalu membutuhkan benda tersebut. Yach, sekedar ingin membantu bapak itu melariskan dagangannya. Seusai shalat Jumat dan hendak kembali ke kampus, saya menghampiri bapak tadi. Saya tanya berapa harga amplopnya dalam satu bungkusan plastik itu. “Seribu”, jawabnya dengan suara lirih.

Astaga, harga sebungkus amplop yang isinnya sepuluh lembar itu hanya seribu rupiah? Uang sebesar itu hanya cukup untuk membeli 1 gorengan pisang pada pedagang gorengan di dekatnya. Uang seribu rupiah yang tidak terlalu berarti bagi kita, tetapi bagi bapak tua itu sangatlah berarti. Saya tercekat dan berusaha menahan air mata keharuan mendengar harga yang sangat murah itu. “Saya beli ya pak, sepuluh bungkus”, kata saya.

Bapak itu terlihat gembira karena saya membeli amplopnya dalam jumlah banyak. Dia memasukkan sepuluh bungkus amplop yang isinya sepuluh lembar per bungkusnya ke dalam bekas kotak amplop. Tangannya terlihat bergetar ketika memasukkan bungkusan amplop ke dalam kotak.

Saya bertanya kembali kenapa dia menjual amplop semurah itu. Padahal kalau kita membeli amplop di warung tidak mungkin dapat seratus rupiah satu. Dengan uang seribu mungkin hanya dapat lima buah amplop. Bapak itu menunjukkan kepada saya lembar kwitansi pembelian amplop di toko grosir. Tertulis di kwitansi itu nota pembelian 10 bungkus amplop surat senilai Rp 7.500. “Bapak cuma ambil sedikit”, lirihnya. Jadi, dia hanya mengambil keuntungan Rp 250 untuk satu bungkus amplop yang isinya 10 lembar itu.

Saya jadi terharu mendengar jawaban jujur si bapak tua. Jika pedagang nakal ‘menipu’ harga dengan menaikkan harga jual sehingga keuntungan berlipat-lipat, bapak tua itu hanya mengambil keuntungan yang tidak seberapa. Andaipun terjual sepuluh bungkus amplop saja keuntungannya tidak sampai untuk membeli nasi bungkus di pinggir jalan. Siapalah orang yang mau membeli amplop banyak-banyak pada zaman sekarang? Dalam sehari belum tentu laku sepuluh bungkus saja, apalagi untuk dua puluh bungkus amplop agar dapat membeli nasi.

Setelah selesai saya bayar Rp 10.000 untuk sepuluh bungkus amplop, saya kembali menuju kampus. Tidak lupa saya selipkan sedikit uang lebih buat bapak tua itu untuk membeli makan siang. Si bapak tua menerima uang itu dengan tangan bergetar sambil mengucapkan terima kasih dengan suara hampir menangis.

Saya segera bergegas pergi meninggalkannya karena mata ini sudah tidak tahan untuk meluruhkan air mata. Sambil berjalan saya teringat status seorang teman di facebook yang bunyinya begini :


“Bapak-bapak tua menjajakan barang dagangan yang tak laku-laku, ibu-ibu tua yang duduk tepekur di depan warungnya yang selalu sepi. Carilah alasan-alasan untuk membeli barang-barang dari mereka, meski kita tidak membutuhkannya saat ini. Jangan selalu beli barang di mal-mal dan toko-toko yang nyaman dan lengkap..”.

Si bapak tua penjual amplop adalah salah satu dari mereka, yaitu para pedagang kaki lima yang barangnya tidak laku-laku. Cara paling mudah dan sederhana untuk membantu mereka adalah bukan memberi mereka uang, tetapi belilah jualan mereka atau pakailah jasa mereka. Meskipun barang-barang yang dijual oleh mereka sedikit lebih mahal daripada harga di mal dan toko, tetapi dengan membeli dagangan mereka semoga saja perbuatan baik kita dapat berbuah menjadi suatu akibat yang baik pula, karena secara tidak langsung kita telah membantu kelangsungan usaha dan hidup mereka.

Dalam pandangan saya bapak tua itu lebih terhormat daripada pengemis yang berkeliaran di masjid, meminta-minta kepada orang yang lewat. Para pengemis itu mengerahkan anak-anak untuk memancing iba para pejalan kaki. Tetapi si bapak tua tidak mau mengemis, ia tetap kukuh berjualan amplop yang keuntungannya tidak seberapa itu.

Di kampus saya amati lagi bungkusan amplop yang saya beli dari si bapak tua tadi. Mungkin benar saya tidak terlalu membutuhkan amplop surat itu saat ini, tetapi uang sepuluh ribu yang saya keluarkan tadi sangat dibutuhkan si bapak tua.

Kotak amplop yang berisi 10 bungkus amplop tadi saya simpan di sudut rak buku di rumah saya. Siapa tahu nanti saya akan memerlukannya. Mungkin pada hari Jumat pekan-pekan selanjutnya saya akan melihat si bapak tua berjualan kembali di sana, duduk melamun di depan dagangannya yang tak laku-laku.


Saya mencoba menggali lebih dalam tentang bapak penjual amplop ini. Yang saya tahu bahwa bapak ini hanya berjualan setiap hari jumat saja di pintu masuk Masjid. Namun, ketika hari selasa saya mendapatkan laporan dari salah seorang rekan bahwa bapak penjual amplop ini menjajakan dagangannya di salah satu gerbang keluar kampus. Saya tidak menemuinya karena jadwal kuliah yang padat. Barulah ketika rabu, sepulang kuliah sekitar pukul 12.00, saya menemuinya di tempat biasa ia menjajakan amplop-amplopnya, yaitu di depan pintu masuk Masjid. Saya berniat untuk menemuinya setelah saya melaksanakan shalat Dzhuhur.

Sekitar pukul 13.00, saya dan teman saya bergegas menuju gerbang pintu masuk Masjid. Saya dan teman saya ada keperluan untuk menyampaikan amanah infaq dari teman-teman kampus yang saya kumpulkan sehari sebelumnya dengan teman saya. Sedangkan saya ada keinginan lebih untuk berbincang-bincang dan membeli amplopnya. Bapak Tua Penjual Amplop.salah seorang jamaah di Jakarta kepada beliau sementara saya memang berkeperluan untuk bercakap-cakap dan membeli amplopnya.
Alhamdulillah beliau mau. Selama bapak tua dengan teman saya berbincang-bincang dan menyampaikan amanah infaq dari teman-teman, saya menerima banyak komentar dari para pedagang-pedangang lain di sekitar.

Menurut para pedagang, tidak sedikit orang yang membeli satu atau dua amplop tapi dibayar seharga Rp 5.000, Rp 20.000, bahkan Rp 50.000. Si Bapak justru sering berkata kepada para pembeli bahwa uang yang diberikannya kelebihan. Namun, para pembeli mengatakan agar diambil saja lebihnya.

Setelah bercakap-cakap dengan para pedagang sekitar, si Bapak ini pun selesai menerima infaq dan mulailah percakapan kami. Sebelumnya agar percakapan lebih terasa hangat saya dan teman saya memperkenalkan diri dengan sedikit gurauan.

Namanya Sahar atau juga bisa dipanggil Pak Uwo, lahir di Sungai Limau (Pariaman) 76 tahun yang lalu. Ayahnya asli Sungai Limau sedangkan Ibunya asli Padang Panjang. Bapak yang sudah hidup tiga perempat abad ini suka merantau kesana kemari semasa mudanya hingga sekarang tinggal menetap bersama anak terakhir dan cucunya di Padang Panjang. Pak Sahar memiliki tiga orang anak yang semuanya laki-laki semua. Anak pertama dan keduanya tidak tinggal bersama Pak Sahar. Semua anaknya memiliki keterbatasan dalam ekonomi sehingga jika beliau menggantungkan diri kepada anaknya, tentu akan susah. Dari sinilah beliau memutuskan untuk berdagang di usianya yang sudah renta.

Pak Sahar sehari-harinya berjualan amplop. Ya, amplop. Ia hanya berjualan amplop, tidak dengan yang lain. Pak Sahar menjajakan amplop-amplopnya di Pasar Sicincin dari pagi sampai siang kemudian dilanjutkan menjajakan amplop-amplopnya di pintu masuk Masjid. Selain itu, Pak Sahar juga menjajakan amplopnya di Pasar Lubuk Alung, dan tempat-tempat lainnya. Beliau baru sekitar sebulan yang lalu menjajakan dagangannya di pintu gerbang masuk Mesjid..

Amplop-amplop tersebut ia ambil dari tetangganya. Kemudian Pak Sahar akan menerima upah sesuai dengan banyaknya amplop yang bisa ia jual. Setoran tersebut tidak dibatasi waktu, boleh kapan saja. Jika pembeli sedang sepi, boleh jadi hari itu tidak setor dulu sampai dengan banyak amplop yang terjual.

Pak Sahar memulai usaha ini dari 2001. Namun karena usianya yang sudah renta, 10 tahun tersebut tidak semuanya digunakan untuk berjualan amplop, terkadang jika sedang capai, ia tidak berangkat mencari nafkah. Sebelum berjualan amplop, Pak Sahar berjualan sayur mayur. Istri Pak Sahar meninggal dunia 6 tahun yang lalu sehingga penghasilan yang beliau dapatkan murni beliau gunakan untuk keperluan hidup beliau sehari-hari. Ketiga anaknya mengetahui bahwa ayahnya ini berjualan amplop untuk memenuhi kebutuhannya sendiri.

Pak Sahar berangkat dari rumahnya di Padang Panjang sekitar pukul 06.30 WIB dan pulang menuju rumahnya sekitar pukul 16.00 WIB. Beliau menggunakan angkutan perkotaan atau bus sebagai sarana transportasinya. Beliau mengatakan lama perjalanan bisa sampai 45 menit atau satu jam. Sungguh, perjuangan yang sangat hebat bagi laki-laki paruh baya ini.

Penghasilan Pak Sahar sehari-hari jelas tidak menentu. Terkadang tidak ada satu pun amplop yang terjual sehingga untuk kembali pulang ia biasanya meminjam uang pada pedagang-pedagang sekitar dan berjanji akan menggantinya jika nanti amplopnya ada yang membeli. Tetangga yang menjadi tempat setornya tidak mempermasalahkan akan keterlambatan setoran, jelas beliau. Beliau menambahkan ongkos pergi-pulangnya tiap hari sebesar Rp 12.000, padahal penghasilannya tiap hari belum tentu sebesar itu. Pada siang hari, Pak Suhud biasa makan di tempat makan yang beliau katakan murah harganya. Pemilik rumah makan sering mengatakan bahwa jika beliau ingin makan, silakan datang saja tanpa perlu membayar.

Beliau mengambil 100 amplop dari tetangganya seharga Rp 7.500 dan ia menjualnya seharga Rp 10.000. Artinya, untuk 100 amplop yang terjual, ia hanya mendapatkan untung Rp 2.500 saja. Jika dipikir-pikir, siapa yang mau membeli amplop sebanyak itu? Kalau pun ada yang membelinya, keuntungan yang beliau peroleh jelas tidak bisa digunakan untuk makan nasi sekalipun. Allahu a’lam. Ketika ditanya kenapa memilih berjualan amplop, ia hanya menjawab singkat saja, karena amplop ringan, masih bisa beliau bawa dibandingkan jika beliau berdagang yang lainnya.

Karena usianya yang sudah tua, tentu fisiknya pun tidak lagi seperti anak muda. Pak Sahar mengatakan bahwa matanya kini telah kurang awas (rabun), pendengarannya kurang berfungsi dengan baik, dan dadanya sering pengap. Saya memperhatikan, beliau berbicara dengan suara yang lirih sekal dan tangan yang benar-benar gemetar baik di kala berbicara, di kala merapikan amplop-amplopnya, di kala membawa tas, dan lainnya.

Dalam keadaan yang seperti itu, Pak Sahar (Pak Uwo) tetap tegar untuk menjaga kehormatannya dengan tidak meminta-minta. Begitu pula yang dikomentarkan para pedagang di sekitar pintu masuk Masjid. Mereka menambahkan, banyak yang badannya masih bujangan, perkasa, gagah, dan kuat, namun meminta-minta. Kami menutup pembicaraan siang itu dengan menyampaikan amanah infaq yang kami kumpulkan dari teman-teman di kampus..

Sebenarnya, ketika awal sampai akhir perbincangan saya berusaha menahan air mata agar tidak keluar karena mendengar suara Pak Sahar yang begitu lirih dan tangannya yang gemetaran. Terima kasih Pak Sahar. Darimu, saya belajar sebuah perjuangan.

Semoga kelapangan dan keberkahan rezeqi menyertaimu Pak. Dan Allah, tidak akan menyiakan hamba-hamba-Nya.


Saya bertemu lagi dengan Bapak penjual amplop di depan Masjid. Sudah beberapa minggu saya tidak melihatnya berjualan pada hari Jumat di depan Mesjid, tetapi kali ini saya “beruntung” bertemu dia lagi. siang itu saya agak telat menuju Mesjid untuk shalat Jumat, saya datang ketika adzan mulai berkumandang. Ketika berjalan memasuki jalan yang menuju Masjid, saya melihat seonggok dagangan yang ditinggal pergi pemiliknya. Saya yakin itu pasti dagangan Bapak penjual amplop sebab ada beberapa kotak amplop yang ditutupi kertas kardus di atasnya. Tas lusuh di atas tembok batu di belakang itu pasti tas miliknya.

Alhamdulillah ternyata si Bapak ini tidak pernah lalai menunaikan kewajibannya sebagai seorang muslim yaitu shalat.
Selesai shalat Jumat saya berniat dalam hati menemui Bapak itu lagi untuk membeli amplopnya. Saya ingin membeli sepuluh bungkus lagi. Amplop yang dulu saya beli belum pernah terpakai hingga saat ini, tetapi tidak apa-apa saya ingin membelinya lagi. Saya percaya bahwa dagangan orang-orang kecil itu mengandung barokah, karena ada ketulusan, kejujuran, dan perjuangan hidup di dalamnya.

Bapak itu sudah selesai shalat Jumat dan sudah berada di depan dagangannya. Ketika langkah saya semakin mendekat, saya perhatikan beberapa orang silih berganti membeli dagangan amplopnya. Ada yang membeli satu bungkus, dua bungkus, dan sebagainya. Alhamdulillah, selalu ada saja rezeki buat si Bapak itu ya. Pembeli umumnya melebihkan pembayaran dengan niat sedekah (begitu kira-kira yang saya perhatikan).

Setelah suasana agak sepi baru saya dekati. Penampilannya sekarang terlihat lebih segar dibandingkan pertama kali saya bertemu dia dulu, tetapi tetap saja raut kerentaan, tangan bergetar, dan suara lirihnya masih melekat. Sambil membeli saya ingin tanya-tanya sedikit. Pak Sahar tidak tahu kalau saya menulis tentang kisahnya, tapi itu tidak penting.

Tukang koran yang berjualan di gerbang Masjid ikut menghampiri kami. Rupanya para pedagang di sekitar Mesjid itu terlihat peduli dengan bapak ini. Para pedagang itu pula yang menjaga barang daganganya bila bapak itu shalat di masjid. Ah, siapa pula orang orang yang tega mencuri dagangan amplop bapak ini.

Saya yakin Penjual Amplop ini adalah tipikal muslim yang taat. Beberapa kali saya pernah melihat dia — tapi bukan pada hari Jumat — mengemasi dagangannya ketika adzan Dzhuhur berkumandang dari Masjid. Pak Sahar menitipkan tas yang berisi dagangan amplopnya kepada pedagang martabak di sekitar situ, lalu dia berjalan dengan pelan menuju masjid untuk mengambil wudhu dan shalat di dalam. Barakollah pak, meskipun miskin dan sudah renta tetapi tidak lalai dengan kewajiban agama.

Mudah-mudahan Pak Sahar (Pak Uwo) tetap sehat dan istiqomah sebagai seorang muslim yang taat. Aamiin...

Jika Anda tersentuh dengan cerita di atas, tolong “like share” cerita ini ke teman-teman yang lain agar mereka juga dapat memetik hikmah yang ada pada cerita di atas. Semoga dapat bermanfaat bagi kehidupan kita, Terima Kasih.

Rabu, 08 Mei 2013

Cara Mendatangkan Pengunjung Blog

Panduan Blogger untuk Blogger pemulaPanduan yang akan membahas tentang bagaimana caranya untuk mendatangkan ribuan pengunjung ke Blog.Blog kedatangan Ribuan Pengunjung tentumendatangkan kebanggaan tersendiri bagi pemiliknya. Siapa pun pemilik blog,so pasti menginginkan banyak pengunjungnya. Berbagai usaha dan trik dilakukan untuk menarik minat pengunjung, satu cara diantarnya lewat artikel ini. Yang blognya masih sepi pengunjung seperti blog saya ini yuk ikuti trik ini. Artikel ini saya salin dari teman yang juga sedang berusaha manaikkan jumlah pengunjung ke blognya. Trik ini sangat bagus, karena itu baca terus sampai ke bawah dan terapkan juga ya di blog mu.


Trik ini bukan saja dapat mendatangkan ribuan pengunjung tetapi juga dapat menaikkan Page rank dan Backlink. Ini tentu akan sangat bermanfaat bagi para pemilik blog, jadi suatu saat kemungkinan blog bisa mendatangkan uang lho.
Trik ini saya baca ketika iseng – iseng berkunjung di blog sahabat, kemudian saya lihat isi dari widget alexa yang terpampang di sidebar blognya. Woowww….ternyata backlinknya banyak sekali, hingga puluhan ribu.Sudah lama sebenarnya saya menemukan posting seperti ini, namun dulu saya pernah sanksi apakah benar cara ini bisa berhasil menaikkan PR dan backlink.


Setelah saya membacanya kembali dan masih kurang yakin atas backlink yang saya lihat di alexa-nya sayapun kembali lagi mengunjungi blog-blog yang telah mengikuti cara ini. Dan ternyata benar, blog-blog yang menerapkan cara ini PR meningkat namun yang paling menonjol adalah backlink yang dimiliki blog-blog tersebut sungguh banyak sekali.Jika kita memiliki PR yang bagus dan backlink yang banyak, maka sangat cocok jika kita ikut program semacam paid reviews. Saya sungguh menyesal tidak menerapkan cara ini sejak dulu. Lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali.

Caranya sangat gampang kok, Anda hanya tinggal copy link yang berada di bawah ini dengan syarat Anda harus menghapus link pada peringkat 1 dari daftar, lalu pindahkan yang tadinya nomor 2 menjadi nomor 1, nomor 3 menjadi nomor 2, nomor 4 menjadi nomor 3, dst. Kemudian masukkan link blog Anda sendiri pada urutan paling bawah ( nomor 10). Dan silahkan ajak teman anda untuk mengikuti cara ini serta sebarkan cara ini ke banyak teman-teman Anda melalui Social Bookmark atau cara lainnya.

  1. 
bootingskoBlog
  2. 
 A Zev Lee Bond
  3. 
Kangisa Co CC
  4. 
Kangisa WordPress
  5. 
fh4djh4r
  6. 
Tips & Trik
  7. 
Mitos dan Fakta
  8. 
Suka - suka
  9. 
http://fumiki-fujita.blogspot.com/

10. adekm-minang.blogspot.com

Keterangan:

Jika Anda mampu mengajak lima orang saja untuk mengcopy artikel ini maka jumlah backlink yang akan didapat adalah:

1.Posisi 10, jumlah backlink = 1
2.Posisi 9, jumlah backlink = 5
3.Posisi 8, jumlah backlink = 25
4.Posisi 7, jumlah backlink = 125
5.Posisi 6, jumlah backlink = 625
6. Posisi 5, jumlah backlink = 3,125
7. Posisi 4, jumlah backlink =15,625
8. Posisi 3, jumlah backlink = 78,125
9. Posisi 2, jumlah backlink = 390,625
10Posisi 1, jumlah backlink = 1,953,125

Dan nama dari alamat blog dapat dimasukan kata kunci yang anda inginkan yang juga dapat menarik perhatian untuk segera diklik. Dari sisi SEO Anda sudah mendapatkan 1,953,125 backlink dan efek sampingnya jika pengunjung downline mengklik link Anda maka anda juga mendapat traffic tambahan.
Penulis sarankan Anda mencoba cara ini dan silakan copy sebarkan artikel ini ke teman-teman Anda. Hilangkan link nomor 1 dan masukan alamat blog Anda pada nomor 10. Buktikan sendiri hasilnya setelah itu baru komentar.

Peringatan:
*Artikel ini harus permanen selamanya di blog Anda, Anda tidak boleh menghapusnya.
Anda mau kan kedatangan ribuan pengunjung, ikuti cara ini mudah kok copas aja artikel ini. OK.

Selamat mencoba.............

Senin, 06 Mei 2013

Resonansi Jiwa "Tuhan dan Tukang Cukur"

Suatu hari seorang laki-laki sebut saja Steve datang ke sebuah barber shop untuk memotong rambut dan jenggotnya. Ia pun memulai pembicaraan yang hangat dengan tukang cukur yang melayaninya. Berbagai macam topic pun akhirnya jadi pilihan mereka. Hingga akhirnya Tuhan menjadi subjek pembicaraan.
“Hai Tuan, saya ini tidak percaya kalau Tuhan itu ada, seperti yang anda katakan tadi,” ujar si Tukang Cukur
Mendengar ungkapan itu Steve terkejut dan bertanya.
“Mengapa anda berkata demikian?”
“Ya, jika tuhan itu ada, mengapa banyak orang yang sakit dan mengapa banyak anak-anak yang terlantar. Jika Tuhan itu ada tentu tidak ada sakit dan penderitaan, Tuhan apa yang mengijinkan semua itu terjadi,” ungkap si Tukanng Cukur dengan nada tinggi.
Steve pun berpikir tentang apa yang baru saja dikatakan sang Tukang Cukur. Namun ia sama sekali tidak memberi respon agar argumen tersebut tidak lebih meluas lagi. Saat Steve keluar dari Barber Shop tersebut. Tiba-tiba ia berpapasan dengan seorang laki-laki berambut panjang dan jenggotnya sangat lebat. Sepertinya ia sudah lama tidak pergi ke tukang cukur dan itu membuatnya terlihat sangat tidak rapi. Akhirnya Steve kembali  masuk ke dalam Barber Shop dan kemudian berkata kepada Sang Tukang Cukur.
“Ternyata di dunia ini tidak ada yang namanya Tukang Cukur.”
Otomatis Sang Tukang Cukur terkejut.
“Bagaimana mungkin mereka tidak ada tuan. Buktinya adalah saya. Saya ada di sini dan saya adalah seorang Tukang Cukur!” sanggah Si Tukang Cukur.
Dan Steve kembali berkata tegas.
“Kalau mereka ada tidak mungkin ada orang yang berambut panjang dan berjenggot lebat seperti bapak yang satu ini!”
“Ah, anda bisa saja Tuan. Tukang cukur itu selalu ada di mana-mana. Yang terjadi pada pria ini adalah bahwa ia tidak mau datang ke Barber Shop saya untuk di cukur,” jawab Si Tukang Cukur.
“Tepat!” tegas steve. “itulah poinnya, sebenarnya Tuhan itu ada! Yang terjadi pada umat manusia adalah mereka tidak mau datang dan mencarinya. Itulah sebabnya mengapa tampak begitu banyak penderitaan di seluruh dunia ini.”
#SUMMARY
Kadang kita terlalu gampang mengambil kesimpulan dari sesuatu hal yang tidak kita pikirkan secara mendalam. Tukang cukur itu adalah diri kita juga yang kadang mereka menderita lalu mengatakan Tuhan tidak ada. Sementara, sesungguhnya kita tidak mengenal Tuhan dan mungkin kita tidak dekat denganNya.

Resonansi Jiwa "Tempayan Retak"

(Kita semua adalah Tempayan Retak.)
Seorang Tukang Air di India memiliki dua tempayan besar. Masing-masingnya bergantung pada kedua ujung sebuah pikulan yang di bawa menyilang pada bahunya. Ternyata satu dari tempayan itu retak sedangkan tempayan yang satunya lagi tidak. Jika tempayan yang tidak retak itu selalu  dapat membawa air penuh setelah perjalanan panjang dari mata air ke rumah majikannya. Sedangkan Tempayan Retak itu hanya dapat membawa air setengahnya. Selama dua tahun hal ini terjadi setiap hari. Si Tukang Air hanya dapat membawa satu setengah tempayan air ke rumah majikannya. Tentu saja tempayan yang tidak retak merasa bangga akan prestasinya karena dapat melaksanakan tugasnya dengan sempurna.
Namun Si Tempayan Retak yang malang itu merasa malu sekali akan ketidaksempurnaannya dan merasa sedih sebab ia hanya dapat memberikan setengah dari porsi yang seharusnya dapat diberikannya. Setelah dua tahun tertekan oleh kegagalan pahit ini tempayan retak itu berkata kepada si Tukang Air.
“Saya sungguh malu pada diri saya sendiri Tuan dan saya ingin memohon maaf kepadamu,”
“Kenapa? Kenapa kamu harus malu,” tanya Si Tukang Air.
“Ya, selama dua tahun ini saya hanya mampu membawa setengah porsi air dari yang seharusnya yang saya dapat bawa. Retakan pada sisi saya ini telah membuat air yang saya bawa bocor sepanjang jalan menuju rumah majikan kita. Karena cacat ku itulah tuan saya telah membuat anda rugi,” jawab Tempayan Retak dengan sedih.
Si Tukang Air merasa kasihan pada Si Tempayan Retak. Dan dalam belas kasihannya ia berkata.
“Jika kita kembali ke rumah majikan besok. Aku ingin kamu memperhatikan bunga-bunga indah di sepanjang jalan.”
Ketika mereka naik ke bukit, Si Tempayan Retak memperhatikan dan baru menyadari bahwa ada bunga-bunga indah di sepanjang sisi jalan. Itu membuatnya sedikit terhibur. Namun pada akhir perjalanan ia kembali sedih karena separuh air yang dibawanya telah bocor. Dan kembali Tempayan Retak itu meminta maaf pada Si Tukang Air atas kegagalannya.
Si Tukang Air berkata kepada Tempayan Retak
“Apakah kamu memperhatikan adanya bunga-bunga di sepanjang jalan di sisimu? Tapi tidak ada bunga di sepanjang jalan di sisi tempayan yang lain yang tidak retak itu? Itu karena aku selalu menyadari akan cacatmu dan aku memanfaatkannya. Aku telah menanam benih-benih bunga di sepanjang jalan di sisimu. Dan setiap hari jika kita berjalan pulang dari mata air kamu mengairi benih-benih tersebut. Selama dua tahun ini aku telah dapat memetik bunga-bunga indah itu untuk menghiasi meja majikan kita. Tanpa kamu sebagaimana kamu adanya majikan kita tidak akan dapat menghias rumahnya seindah sekarang.”
#SUMMARY
Setiap kita memiliki cacat dan kekurangan kita sendiri. Kita semua adalah Tempayan Retak namun jika kita mau Tuhan akan menggunakan kekurangan kita untuk menghias mejanya. Di mata Tuhan yang Bijaksana tidak ada yang terbuang percuma. Jangan takut akan kekurangan anda. Kenalilah kelemahan anda. Dan anda pun dapat menjadi sarana keindahan Tuhan.

Resonansi Jiwa "Persaudaraan"

Ada dua orang bersaudara bekerjasama menggarap ladang milik keluarga mereka. Yang seorang si kakak telah menikah dan memiliki keluarga yang cukup besar. Sedangkan si adik masih lajang dan berencana tidak menikah. Ketika musim panen tiba mereka selalu membagi hasil sama rata, selalu begitu.
Pada suatu hari si adik yang masih lajang itu berpikir.
“Tidak adil rasanya jika kami membagi rata semua hasil yang kami peroleh. Aku masih lajang sedangkan kebutuhanku hanya sedikit.”
Maka demi si kakak setiap malam, ia mengambil sekarung padi miliknya dan diam-diam ia meletakkan karung itu di lumbung milik kakaknya. Sekarung padi itu ia anggap cukup untuk mengurangi beban si kakak dan keluarganya
Sementara itu si kakak yang telah menikah pun merasa gelisah akan nasib adiknya. Dan Ia berpikir, tidak adil jika kami selalu membagi rata semua hasil yang kami peroleh. Aku punya istri dan anak-anak yang akan mampu merawatku kelak ketika aku tua. Sedangkan adikku tidak punya siapa-siapa. Tidak akan ada yang peduli jika nanti dia tua dan miskin. Sepertinya ia berhak mendapatkan hasil lebih dari aku.
Karena itu setiap malam secara diam-diam ia pun mengambil sekarung padi dari lumbungnya dan memasukkan ke lumbung milik adik satu-satunya itu. Ia berharap satu karung itu dapat mengurangi beban adiknya kelak.
Begitulah selama bertahun-tahun kedua bersaudara itu saling menyimpan rahasia. Sementara padi di lumbung keduanya tidak pernah berubah jumlah. Sampai suatu malam keduanya bertemu ketika sedang memindahkan satu karung ke masing-masing lumbung saudaranya. Dan di saat itulah mereka sadar dan saling menangis berpelukan. Mereka tahu DALAM DIAM ADA CINTA YANG SANGAT DALAM YANG SELAMA INI MENJAGA PERSAUDARAAN mereka. Ada HARTA yang justru menjadi PEREKAT CINTA bukan PERUSAK.

Resonansi Jiwa "Jessica"

Pada suatu malam, Budi seorang eksekutif sukses sepeti biasanya sibuk memperhatikan berkas-berkas pekerjaan kantor yang ia bawa pulang ke rumah. Karena keesokan harinya ada rapat umum yang sangat penting dengan para pemegang saham.
Ketika sedang asyik menyeleksi dokumen kantor tersebut. Putrinya Jessica datang mendekati. Berdiri tepat disampingnya sambil memegang buku cerita baru. Buku itu bergambar seorang peri kecil yang sangat menarik perhatian Jessica.
“Pa, lihat, Jessi punya buku baru baagus dech.”
Jessica berusaha menarik perhatian ayahnya. Budi menengok ke arahnya sambil menurunkan kacamatanya. Kalimat yang keluar hanyalah kalimat basa basi
“Wah bagus ya jess
Iya papa.
Jessica merasa senang karena ada tanggapan dari ayahnya.
Bacain jessi dong pa, pinta jessi dengan lembut
“Wah Papa sedang sibuk  sekali nih! jangan sekarang dech,” sanggah Budi dengan cepat.
Lalu ia segera mengalihkan perhatiannya pada kertas-kertas yang berserakan di depannya. Jessica diam tapi ia belum menyerah. Dengan suara lembut dan sedikit manja ia kembali merayu ayahnya.
“Pa, Mama bilang papa mau baca untuk Jessi,”
“Lain kali Jessica! Sana! papa lagi banyak kerjaan nich.”
Budi berusaha memusatkan perhatiannya pada lembar-lembar kertas tadi. Menit demi menit berlalu. Jessica menarik nafas panjang dan tetap disitu. Berdiri di tempatnya penuh harap. Dan tiba-tiba ia memulai percakapan lagi
“Pa gambarnya bagus-bagus deh, papa pasti suka.”
“Jessicaa!!! Papa bilang lain kali.”
Budi membentaknya dengan keras. Kali ini budi berhasil membuat Jessica mundur. Matanya berkaca-kaca dan ia bergeser menjauhi ayahnya.
“Iya Pa, lain kali aja ya pa,”
Ia masih sempat mendekati ayahnya dan sambil menyentuh lembut tagan ayahnya. Ia menaruh buku cerita di pangkuan sang ayah.
“Pa, kalau Papa ada waktu Papa baca keras-keras ya Pa, supaya Jessica bisa dengar.”
Hari demi hari telah berlalu. Tanpa terasa Dua pekan berlalu namun permintaan Jessica kecil tidak pernah dipenuhi. Buku cerita peri kecil belum pernah dibacakan bagi dirinya. Hingga suatu sore, terdengar suara hentakan keras. Beberapa tetangga melaporkan dengan histeris bahwa Jessica kecil terlindas kendaraan seorang pemuda mabuk yang melajukan kendaraannya dengan kencang di depan rumah Budi.
Tubuh Jessica mungil terlempar beberapa meter. Dalam keadaan yang begitu panik. Ambulance didatangkan secepatnya. Selama perjalanan menuju rumah sakit. Jessica kecil sempat berkata dengan begitu lirih.
“Papa, Mama, Jessi takut Pa. Jessi sayang papa dan mama. “
Darah segar terus ke luar dari mulutnya. Hingga ia tak tertolong lagi ketika sesampainya di Rumah Sakit terdekat.
Kejadian hari itu begitu mengguncang hati nurani Budi. Tidak ada lagi waktu tersisa untuk memenuhi sebuah janji. Kini yang ada hanyalah penyesalan. Permintaan sang buah hati yang sangat sederhana pun tidak ia penuhi. Masih segar terbayang dalam ingatan Budi. Tangan kecil anaknya yang memohon kepadanya untuk membacakan sebuah cerita. Kini sentuhan itu pun terasa sangat berarti sekali.
Sore itu setelah segalanya berlalu. Yang tersisa hanyalah keheningan dan kesunyian hati. Canda dan riang Jessica kecil tidak akan terdengar lagi. Budi mulai membuka buku cerita peri kecil yang diambilnya perlahan dari onggokan main Jessica di pojok ruangan. Bukunya sudah tidak baru lagi. Sampulnya sudah usang dan koyak. Beberapa coretan tak berbentuk menghiasi lembar-lembar halamannya seperti sebuah kenangan indah dari Jesica kecil.
Budi menguatkan hati dengan mata yang berkaca-kaca ia membuka halaman pertama dan membacanya dengan suara keras. Tampak sekali ia berusaha untuk membacanya dengan keras. Ia terus membacanya dengan keras-keras. Halaman demi halaman dengan berlinang air mata.
“Jessi, dengar, papa baca buatmu nak.”
Selang beberapa kata hatinya memohon lagi.
“Jessi papa mohon ampun Nak. Papa sayang sama Jessi
Seakan setiap kata dalam bacaan itu begitu menggores lubuk hatinya.
Tak kuasa menahan sakit. Budi bersujud dan menangis. Memohon kepada Tuhan untuk diberi satu kesempatan lagi untuk belajar mencintai.

Resonansi Jiwa "Duka Diperjalanan"

Dari kejauhan lampu lalu lintas di perempatan itu masih menyala hijau. Seorang pria sebut saja Jack segera menekan pedal gas kendaraannya. Ia tidak mau terlambat. Apalagi perempatan cukup padat sehingga lampu merah menyala cukup lama. Lampu berganti kuning. Hati Jack berdebar berharap semoga ia bisa melewatinya segera. Tiga meter menjelang garis jalan lampu merah menyala. Jack bimbang, haruskah ia berhenti atau terus jalan?
“Ah, aku tidak punya kesempatan untuk menginjak rem mendadak,” pikir Jack sambil terus melaju.
Tapi tiba-tiba ia mendengar suara pluit. Dan di seberang jalan seorang polisi melambaikan tangan memintanya berhenti. Jack pun menepikan kendaraan sambil mengumpat dalam hati. Dari kaca spion ia melihat siapa polisi itu. Dan tak lain adalah Bobby, teman mainnya semasa SMA dulu. Kemudian jack melompat keluar dan membuka lengannya sambil berkata.
“Hei Bob, haa, senang sekali ketemu kamu lagi,”
“Hei Jack,” jawab Bobby tanpa senyum.
“Waduh, sepertinya saya kena tilang lagi nich. Saya memang agak terburu-buru Bob. Hehe… Maklum hari ini istri saya ulang tahun. Ia dan anak-anak sudah menyiapkan segala sesuatunya. Tentu aku tidak boleh terlambat ke rumah dong, istri saya sudah menunggu di rumah masalahnya,”
Jack mencoba berkilah.
“Hm Saya mengerti. Tapi sebenarnya kami sering memperhatikanmu melintasi lampu merah di persmpangan ini. Sekarang berikan SIM-mu Jack,” jawab Bobby.
Dan kemudian ia menulis sesuatu di buku tilangnya.
Melihat sikap Bobby yang dingin, Jack masuk ke mobil dan memandangi wajah Bobby dengan penuh kecewa. Dibukanya kaca jendela itu sedikit cukup untuk memasukkan surat tilang. Tanpa berkata-kata Bobby kembali ke posnya. Jack mengambil surat yang diselipkan Bobby di sela kaca jendela. Tapi ternyata SIM-nya dikembalikan bersama dengan sebuah nota tulisan tangan Bobby yang isinya adalah :
Halo Jack, tahukah kamu, aku dulu mempunyai seorang anak perempuan. Sayang ia sudah meninggal tertabrak pengemudi yang ngebut menerobos lampu merah. Pengemudi itu di hukum penjara selama tiga bulan. Begitu bebas ia bisa bertemu dan memeluk ketiga anaknya lagi. Sedangkan anak kami satu-satunya sudah tiada. Kami terus berusaha dan berharap agar Tuhan berkenan mengkaruniai seorang anak agar dapat kami peluk. Ribuan kali kami mencoba memaafkan pengemudi itu. Betapa sulitnya Jack. Begitu juga kali ini. Maafkan aku teman. Doakan agar permohonan kami terkabulkan. Berhati-hatilah di jalan.
Salam Bobby
Setelah membacanya, Jack terhenyak dan langsung mencari Bobby. Tapi ia sudah meninggalkan pos. Dan sepanjang jalan pulang ia mengemudi perlahan dengan hati tak menentu sambil berharap kesalahannya dimaafkan.
#SUMMARY
Kawan, tidak selamanya pengertian kita harus sama dengan pengertian orang lain. Bisa jadi tawa kita tidak lebih dari duka rekan kita. Hidup ini sangat berharga. Jalanilah dengan penuh hati-hati.