Rabu, 27 Maret 2013

Arjuna Terpasung Cinta

Jika yang ditargetkan seseorang, maka potensi gagal lebih besar. Namun bila yang diharapkan adalah kriteria, maka peluang jauh lebih terbuka.

Usai Maghrib, seorang ikhwan curhat. Raut gelisah diwajahnya terlukis jelas. Apalagi yang membuatnya keruh selain kata ajaib: cinta ! Virus merah jambu telah menyerbu hingga ke pembuluh terhalus. Panah asmara itu menancap pada seorang akhwat, Manda.

Dore cukup punya alasan hadirnya getar istimewa di dada. Dia terpesona dengan cahaya taqwa di wajahnya. Manda tergolong salehah, taat ibadah, hapal Al-Qur'an, tutur kata santun, pintar dan kebetulan pula cantik. Wajar dong rasa suka itu hadir..!

Sebagai pemuda yang mengerti agama, Dore tidak mau bermain hati. Pacaran pun dia anti. Tekadnya cuma satu: nikah dini keren..! Maka dengan jantan suara hati disampaikan pada bunga harapan.

Tidak ada masalah dengan Manda, dia muslimah tangguh dan merasa siap membina cinta yang halal. Hatinya sudah terbuka lebar, tapi tidak demikian dengan orang tua. Dalam pandangan mereka rumah tangga tidak bisa modal semangat doang. Harus ada kemampuan materi, setidaknya penyangga awal bahtera cinta.

Tentu saja syarat demikian terasa berat bagi sepasang merpati putih. Keduanya baru saja mencicipi bangku pertama perkuliahan, masih amat bergantung pada SLOT (Subsidi Langsung Orangtua Tunai).

Episode berikutnya gampang ditebak, orang tua menolak dengan alasan bijaksana, "Selesaikan saja kuliah, menikah nanti dipikirkan."

Sang akhwat manut pada ayah bunda. Agaknya dia berpikir juga realistis. Berbeda dengan Dore yang langsung lesu. Wajah gantengnya memucat, tubuh yang kekar lemas tak berdaya.

Cinta kemana kau pergi..?
Harapan telah terbanting. Dia yang dulu berkoar-koar cinta tak harus memiliki, sekarang kena batunya sendiri. Gampang diucapkan, pahit dilaksanakan. Benar adanya, bahwa mencabut duri dalam daging lebih mudah dari pada mencabut duri dalam hati.

"Ooooh... Tuhan, betapa berat rasanya cinta!" jeritnya pilu.

"Mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman sangatlah cinta kepada Allah." (QS. Al-Baqarah:165)

Pernah juga Dore menenangkan hati, ingin mencoba bersabar beberapa tahun. Kalau studi selesai niat suci di sodorkan kembali. Sayang situasi dan kondisi belum berpihak pada impiannya.

Malahan beberapa ikhwa senior juga pasang ancang-ancang. Bedanya mereka terlebih dahulu memakai pendekatan ayah bunda. Alhasil lekas terlihat tanda-tanda lampu hijau segera menyala. Soalnya yang datang saleh, cakep, pintar dan mapan. Apalagi yang kurang..?

Seumur-umur baru kali itu Dore merasa sebagai pecundang. Kalah telak di tikungan pertama. Padahal selama ini ia sering di puja, anak pintar, berprestasi, cakep lagi. Lomba MTQ juara, liga sepak bola dapat piala, lomba bidang seni juga jago, bakat sastranya tak kalah mengagumkan.

Padahal ini cinta pertama dan (rencananya) terakhir. Cinta suci yang tidak segorespun ternoda oleh nafsu. "Kok susah banget mendapatkan?" ujarnya nelangsa.

Masalah ini terus berlarut-larut dipendam sendirian. Sementara pesona Manda terus membayangi, hingga segala kegiatan hidup tak enak. Makan tiada selera, tidur tak nyenyak, kentut tak lega, pokoknya kusut abis..!

Lebih tragis kuliahnya hancur-hancuran. Semangat belajarnya lenyap..! Bayangin aja, beberapa bidang studi hanya setor wajah dua kali di semester ganjil. Pada semester genap, tak seklipun duduk dibangku kuliah. Boro-boro kuliah, mendaftar saja tidak pernah. Pernah di panggil ketua jurusan, dinasehati panjang lebar dia malah ketiduran.

Keterlaluan..!
Hingga di Maghrib yang bersejarah itu, ia bertemu Bang Yohan. Senior yang nyantai tapi pengertian. Setelah Dore kehabisan bahan curhat, Yohan balik bertanya.

"Yakin dia muslimah yang baik?"
"Ya" Jawab Dore sendu.
"Percaya akhwat itu tergolong salehah?"
"Ya" kali ini matanya agak bercahaya.
"Yakin Manda bisa membuatmu bahagia?"
"Ya" wajahnya makin mantap.
"Kamu percaya bahwa Manda satu-satunya muslimah yang baik dan salehah di dunia ini?"

Dore tercenung.
"Ayo, jawab aja dengan tegas!" giliran Yohan yang meninggi.
"Tidak"
"Berarti masih ada yang lainkan?"
"Be. . . benar."
"Nah, Manda memang baik, salehah, cantik tetapi bukan satu-satunya terbaik di dunia. Kalau niatmu mendapatkan yang salehah, insyaallah akan disediakan oleh Allah. Tetapi jika tagetmu hanya Manda, itulah perkara yang berat dan sulit. Bahkan sampai menghancurkan dirimu sendiri."

Mumpung Dore sedang tercenung, Yohan menggempur habis-habisan.
"Sebenarnya wajar bila orangtuanya memilih bagi puteri mereka. Karena mereka ragu menitipkan amanah padamu. Kenaoa ragu? Sebab tanda-tanda untuk siap memikulnya belum kelihatan. Jangan salahkan bila mereka ragu, tapi tunjukkanlah siapa dirimu dengan melejitkan potensi dan raih prestasi!"

semula Dore berpikir akan di hibur, apalagi Bang Yohan punya empati tinggi. Ternyata dia malah dapat pukulan telak. Nasehat yang justru tegas dan membuat egoismenya terpojok.


Beberapa waktu Dore menghilang, kabarnya sedang menenangkan jiwa. Kemudian datang kembali menemui Bang Yohan. Bedanya, wajah sang ikhwan kembali menyala-nyala. Sesuatu yang pernah menghilang hampir setahun belakangan. Pada tausiah terakhir tentang motivasi hidup, terdengar ia berseru: allahuakbar!

Pendek cerita, Dore menemukan sesuatu yang baru dan tidak menyesali apa yang pernah terjadi. Malah bersyukur bahwa itu merupakan salah satu proses menuju kedewasaan. Meski pasona akhwat sangat kuat, syukurlah ia sudah bisa bangkit.

"Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi pula kamu mencintai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tiada mengetahui." (QS. AL-Baqarah:216)

Keputusannya sudah bulat segera pindah ke pulau seberang. Bukan lari dari kenyataan, tetapi pindah ke bidang studi yang amat disukainya, yaitu Bahasa Ingris. Seraya terus mengasah hati untuk cinta hakiki.
Selamat bejuang sobat..!

It's My Soul

Beragama tidak bisa ala kadarnya, melainkan total usaha menuju sempurna.

Sekarang pemahaman akhwat tentang jilbab terbelah dua. Pertama, biarlah memakai jilbab yang sedang-sedang saja, yang penting iffah dan izzah tetap terjaga. Kedua, justru dengan mengenakan jilbab lebar adalah peluang mengangkat derjat iffah dan izzah selaku muslimah.

Sikap tidak kompak ini terus berlanjut, pendirian terhadap hijab juga mengalami pengeroposan. Hal itu terlihat pada gejala akhwat yang mulai memendekkan jilbab pasca KKN (Kuliah Kerja Nyata), pasca nikah dan pasca-pasca lainnya.

Hanya dengan sedikit mencicipi dunia sosial yang lebih bebas, keteguhan hati berangsur-angsur longsor. Jilbab yang semulanya panjang terus naik, naik dan naik hingga kemudian melilit leher.
Fa aina tazhabun...?


Aneh memang, bisa saja kondisi menjadi terbalik. Seharusnya orang mempertanyakan muslimah yang belum berjilbab, tapi sekarang malah sibuk mempermasalahkan jilbab lebar. Sebagaimana pengakuan seorang akhwat, sebut sajalah namanya Bunga, akhwat yang baru saja diangkat sebagai pegawai negri sipil.

Betapa bahagianya segera mendapatkan pekerjaan, serasa masa depan cerah sudah dalam genggaman. Apalagi pekerjaan dosen amat bergengsi dan tidak semua orang cerdas beruntung meraihnya. Bunga lebih bersyukur lagi saat melihat nasib para senior yang tak kunjung jelas pekerjaannya.

Sekarang tinggal memikirkan langkah berikut, yaitu membina keluarga SAMARA (sakinah mawaddah wa rahmah). Namun mana ada hidup yang tanpa gelombang, suatu kali atasan memanggil.

‎"Anda ikut aliran apa, kok jilbabnya aneh begitu..?
Nanti orang-orang akan curiga, biasa-biasa sajalah dalam penampilan, " ujarnya sangat berwibawa.

Bunga langsung terkulai. Dia tidak ingin sering ditegur, lebih tidak ingin hilang kenyamanan dalam bekerja. Lambat laun jilbab yang dipakai sudah mengalami "penyesuaian", lagi pula dia ingin suasana baru. Pakaian kebesaran, jilbab lebar, gamis, manset sengaja dihibahkan pada yunior.


Berjilbab merupakan kewajiban yang tidak bisa ditawar lagi oleh muslimah. Allah memerintahkan agar perempuan beriman mengenakan jilbab sempurna. Q.S an-Nur ayat 59
"Hai Nabi katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin: "Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya keseluruh tubuh." Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu."


Kategori jilbab yang syar'i, yaitu tidak transparan, menutup dada atau tidak pendek. Jilbab minimalis sering membuka peluang pamer bentuk tubuh. Karenanya Rasul menyuruh penggunaan jilbab sempurna hingga menutupi wilayah sensitif kewanitaan.

Kegunaannya selain untuk membedakan antara wanita terhormat dan seorang budak, juga demi memelihara kemuliaan. Manfaat yang bisa langsung dirasakan muslimah berupa penghormatan dan penghargaan yang lebih dari siapapun.


Jilbab lebar bukan masalah selera tetapi nurani. Sepeka apakah jiwa seorang muslimah tersentuh dengan seruan agama. Semakin sempurna menutup aurat makin tinggi keagungan sekaligus makin berat tanggung jawab moralnya.

Orang yang bersih hati akan merasa senang melihat akhwat dengan busana kebesaran. Ada ura istimewa terpancar yang membuatnya tampil beda, unik dan menyejukkan. Keistimewaan memang selalu menciptakan pesona. Ada rasa hormat, salut, kagum, dan rindu. Entahlah...! Barangkali disana letak wibawa sebuah busana takwa.

Pemakai jilbab lebar mendapat perlakuan berbeda, lebih santun dan lembut, meski dari orang yang tidak dikenal sekalipun. Kepercayaan yang muncul dari penilaian yang diberikan mereka terhadap busana yang dipakai. Maka teruslah berusaha menata dan memperbaiki diri. Jilbab yang dikenakan menjadi teladan bagi orang lain.

Namun masih saja jilbab lebar dipermasalahkan, apa sih dosanya...?


Kalau jilbab lebar tidak menjamin kualitas Iman sesorang, lantas apakah jilbab pendek bisa menjaminnya...? Mengapa jilbabya yang diserang, kenapa bukan kekeliruan pemakainya yang dinasehati agar diperbaiki..?

Siapapun tidak berhak menilai bahwa orang yang berjilbab lebar itu pasti salehah. Dan, tidak pula sebaliknya memvonis negatif bahwa orang berjilbab lebar sekedar topeng menutupi kejelekannya.
Mari kita perbaiki pemahaman kita tentang hal ini. Orangnya bukan jilbanya.


Nah, tak perlu risau bila ada orang negative thinking terhadap jilbab sempurna. Seyogianya akhwat berusaha tetap istiqamah dan mencari letak kekurangan diri lantas memperbaikinya. Kritikan menjadi pemicu dan motivasi untuk menjadi lebih baik, bukan kesempatan melarikan diri dari kebenaran. Nyatakan cinta dengan kritik..!

Di dunia fitnah itu biasa terjadi, seperti munculnya pandangan miring terhadap jilbab lebar. Sentimen merebak gara-gara sedikit kekhilafan, walupun yang berbuat cuma oknum segelintir.

Mulai terdengar nada-nada yang kurang merdu. Akhwat berjilbab lebar begitu lepas kendali dalam pergaulan. Sehingga tidak ada bedanya dengan wanita kebanyakan.


Apa nilai plus dari jilbab lebar mereka..? Jika tutur katanya begitu menyakitkan seolah-olah tidak mengenal tatakrama. Perbuatannya mendatangkan penderitaan, kehadirannya tidak membawa kesejukan atau kedamaian jiwa. Sifatnya jutek, bete, dan cuek kayak bebek. Mengesalkan memang kalau ketemu yang seperti ini.

Ironisnya, sejumlah pengagum jilbab lebar mengundurkan diri, lantaran akhlak pendahulu yang belum bisa dijadikan teladan. Akhirnya mereka mengurungkan niat suci mengikuti ajaran agama. Dengan alasan yang beragam pula tentunya...!

Kalau begitu yang terjadi jangan salahkan jilbab, tapi perbaiki pribadi orangnya...? Ketika pemakai jilbab mengalami inflasi, jilbab lebar jangan sampai ikut tenggelam. Itulah benteng terakhir harkat dan martabat akhwat.


Setiap orang punya kelebihan dan kekurangan. Barangkali ada yang sudah punya pemahaman tentang jilbab, sayang belum mampu menyeimbangkan dengan akhlak. Solusinya, istiqamah dengan busana takwanya sembari terus memperbaiki budi pekerti.

Seorang akhwat, idealnya mempunyai akhlak, tingkah laku, tutur kata dalam pergaulan lebih baik dari pada mereka yang berjilbab ala kadarnyua. Pribadinya bisa menjadi contoh atau panutan bagi mereka yang sebenarnya juga mengagumi bahkan ingin berjilbab sempurna.


Tapi akhwat juga manusia..! Kekhilafan atau kekurangan hal manusiawi yang lumrah terjadi. Tergantung kemauan untuk terus memperbaiki. No thing perfect in the world...!

Jangan sampai takut memakai jilbab sempurna berhubung khawatir menjelekkan citranya. Padahal sebenarnya tidak ingin taat karena mengikuti hawa nafsu. Mengapa harus minder dengan jilbab lebar yang mendulang pahala..? Sedangkan orang berbaju mini malah kelewat percaa diri, padahal jelas dikepung dosa.


Jika gadis-gadis norak CTKD (Cewek Tak Kenal Dosa) berani tampil baju ketat, setan pede saja dapat neraka. Busana syar'i dapat pahala dan surga harusnya lebih pede lagi. Mari beri dukungan bagi yang menyempurnakan hijab.
Hidup Akhwat..!



"Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhan, dan janganlah kamu turuti langkah-langkah setan. Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata." (QS. Al-Baqarah ayat 208)

Ketika PERDA Berbicara Tentang Jilbab

Jika kita bolak balik lembaran sejarah, tahun 80-an tercatat sebagai lembaran kelam para jilbaber. Suatu masa dimana kaum Muslimah berjuang mati-matian menghadapi SK 052 / C / Kep / D.82 tentang seragam sekolah nasional. Masalahnya adalah, pelaksanaan terhadap surat keputusan itu malah berujung pd larangan pemakaian jilbab.

Secara serentak meledak demo barisan pembela jilbab di seantero Indonesia. Para pendemo ini berhadapan dg pihak sekolah, aparatur pemerintah, pihak militer. Sepertinya, jilbab dianggap sebagai simbol gerakan perlawanan terhadap pemerintah yg sah. Sudah tak terhitung berapa airmata, keringat dan peluh yg tumpah demi perjuangan yg suci. Proses, proses dan proses hukum...! Perjuangan itu tdk sia2, seiring keluarnya SK Dirjen Dikdarmen No.100/C/Kep/D/1991 jilbab lengkap dg busana menutup auratnya dinyatakan halal masuk sekolah.

Selanjutnya jilbab naik pangkat sebagai lambang kegemilangan umat islam. Sekarang muncul lagi fenomena yg membersitkan harapan terang bagi kecermelangan dunia perempuan. Berbagai daerah berlomba2 menerbitkan Perda(peraturan daerah) kewajiban berbusana muslimah dan jilbab. Hal ini disambut gembira masyarakat yg sehat jiwa agamanya, yg merindukan negri yg sejuk dibawah naungan islam. Perda itu seperti di; Cianjur,Sukabumi,Pamekasan,Bulukumba,Pasaman Barat(SUMBAR) dan Padang. Dll

Perda ini diberlakukan lewat intruksi Walikota no 451.422/Binsos-III/2005 di Padang. Perda ini mewajibkan para pelajar perempuan mengenakan baju kurung dan jilbab, dan laki2 mengenakan kemeja lengan panjang dan celana panjang. Perda ini diberlakukan untuk semua sekolah mulai dari tingkat SD-SMU.

Hmm..., ^_^ ayo kaum hawa yg belum pky jilbab, segara pakai, krn itu wajib. Qs.an-Nur:31
agar kami para kaum adam juga ikut terbantu untuk menjaga pandangannya

bersambung

Fans


Jika ada yang mengira bahwa ada yang lebih berhak dicintainya selain Allah, berarti dia belum mengenal Allah.

Apakah benar perempuan diciptakan untuk mengagumi..? Entahlah, belum ada yang berani menyimpulkan secara pasti. Kendati demikian fakta lapangan akan berbicara lebih banyak. Lihatlah jika selebritis hadir, cewek-cewek ABG menyambutnya histeris berat. Jerit-jeritan melengking selangit, dilengkapi acara menguber-uber idola, pelukan dan ciuman juga merajalela.

Acara lupa diri itu dilengkapi dengan aksi menangis bahkan pingsan segala. Lebih dari itu, beberapa diantara mereka harus rela melepaskan nyawa satu-satunya demi sang pujaan. Kematiannya juga amat tragis, terinjak-injak saat mengikuti konser.

Gejala membabi-buta tidak begitu kental dikalangan laki-laki. Kalaupun mengaku sebagai fans, tapi lebih kalem dan terkendali. Dalam soal histeria, perempuan agaknya jauh lebih ganas ketimbang pria. Bisakah disimpulkan perempuan gampang terpesona..?

Paranya, kasus ngefans terlanjur dipandang lumrah oleh budaya sekarang. Bahkan bisa menjadi suatu keharusan jika tidak ingin disebut ketinggalan zaman.

Namun masalahnua akan berbeda kalau akhwat yang ikut-ikutan ngefans. Sosok tenang yang menyejukkan, tiba-tiba saja jadi kecentilan. Turut serta menjerit, menguber-uber dan menangis rindu.
Bayangkan..!

Mereka yang selama ini dipandang sebagai representasi ideal seorang muslimah ikut terkontaminasi virus hati. Lantas dimanakah keteguhan azzam yang selama ini terpancang di dada..? Tonggak istiqamah yang sejauh ini kukuh menghadang gelombang perjuangan, akhirnya terkulai oleh gamparan kekaguman.

Malangnya, kekaguman itu lepas dari nilai-nilai idealis sebagai pengusung panji-panji kebenaran. Kriteria shaleh, mental yang baik, kepintaran atau ketawadhu'an sudah lama tesingkir. Sisi-sisi jasmani seperti, ketampanan, kemerduan, kerapian atau kemapanan menjadi target terdepan.

Aduhai, umat islam juga punya selebritis. Hati para akhwat sudah disesaki ikhwan-ikhwan keren. Selanjutnya pemuda muslim lebih terobsesi menjadi boy band, group band, nasyider ketimbang da'i apalagi mujahid. Olah suara resikonya sedikit, lekas dikenal dan dikagumi lawan jenis. Lambat laun ia menjadi idola yang mengoleksi fans tersendiri.

Sementara dakwah dan jihad hanyalah pematang bertabur onak duri, jatuh bangun berjuang tapi tak dikenal orang.Tiada puja-puji atau histeria, malahan bisa dijebloskan ke penjara atau dibunuh diam-diam.
Bahaya pesona..!

Hati akhwat sudah bergelimang syahwat, tak lagi suci karena berkubang bercak-bercak noda. Zikir sudah bercampur baur antara nama Tuhan dan nama seseorang. Ada sosok istimewa yang menghiasi do'a-do'a yang dipanjatkan. Ada harapan-harapan yang tak terucapkan kecuali rintihan lirih dalam hening di malam sepi.

Niat awanya berdakwah lewat musik, maka digelar konser akbar. Hasilnya bukan membuka jalan kepada Tuhan, malahan menuhankan makhluk ciptaan-NYA. Akhwat tak kalah ganas, pakai acara histeris segala. Tidak cukup rebutan tanda tangan, malah minta foto bersama dan minta ini itu segala. Apalagi kalau ganteng... ehm... ehm... ehm...
sambil teriak panggil namanya "Ariel"

Penyimpangan yang paling sering dalam setiap konser adalah ikhtilah (campur baur). Juga timbulnya rasa spesial penonton atau fans lawan jenis kepada personel tim maupun sebaliknya.

Mungkin awalnya diniatkan sebagai lahan dakwah di kalangan kaum perempuan. Belakangan malah membuat mereka terjerembab. Lambat laun banyak bunga yang mendaftar sebagai fans gelap. Tidak sedikit pula yang memproklamasikan diri secar terang-terangan, atau dengan malu-malu minta dinikahi..! 

"Katakanlah kepada laki-laki yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat". (QS. 24:30) 

"Katakanlah kepada wanita yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangan mereka, dan memelihara kemaluan mereka, dan janganlah mereka menampakkan perhiasan mereka kecuali yang (biasa) nampak dari mereka. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedada mereka, dan janganlah menampakkan perhiasan mereka, kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara mereka, atau putera-putera saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita Islam, atau budak-budak yang mereka miliki atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kaki mereka agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung. (QS. 24:31)

Tebar-tebar pesona akan menimbulkan ketertarikan, keinginan atau loncatan-loncatan harapan yang malang melintang di hati. Kemudian dengan mudah terbukalah pintu-pintu godaan setan. Keinginan kuat merebut sosok yang kelihatan sempurna. Niat untuk memiliki semakin ternoda, agar fansnya yang lain iri dan kalau perlu sampai patah hati.

Konser yang semula menjadi sarana mensyiarkan Islam berubah menjadi arena kebebasan yang kebablasan. Nasyid dibutuhkan agar dunia tahu bahwa Islam punya alternatif di antara hingar-bingarnya musik di jagad ini. Namun hingga membuat umatnya kehilangan izzah, pasti sudah keluar dari yang diharapkan.

Pepatah Arab menyebutkan, bukanlah gagah atau cantik dengan aksesoris yang menghiasi penampilan. Sesungguhnya gagah atau cantik sejati adalah orang yang rupawan ilmu pengetahuan dan budi pekerti.
Duhai pesona..!

Sampai kapankah kekaguman itu mampu bertahan..?
Singkat saja, menjelang keburukannya terkubak atau sampai datangnya idola baru. Karenanya jangan mau ditikam persaan sendiri.

Mengagumi pria dan mencuri perhatiannya sudah menjadi tabiat wanita. Kabarnya, pria tercipta untuk menaklukkan dunia, sedangkan perempuan terlahir guna menaklukkan hati laki-laki. Sayang, beberapa kaum Hawa sering menjadi korban perasaan sendiri. Ketika mengagumi luar biasa terpesona, seolah-olah tiada secuilpon kekurangan. Dia hanyalah manusia tetapi dibayangkan laksana malaikat. Saat sedikit kekurangan terkubak, ambruklah semua ketakjuban. Semua tentang dirinya hitam, jelek dan menjijikan.

Tetapi akhwat juga perempuaan biasa yang juga punya rasa. Kekaguman merupakan anugrah yang mustahil dibasmi habis. Terkadang kita membutuhkan sesuatu yang akan dipuja. Kemana idola hendak dicari..?

Manusia memang membutuhkan suri teladan yang layak di idolakan. Dan, posisi Rasulullah beserta orang-orang shaleh masih belum pantas disingkirkan. Secara jasmani mungkin tidak nampak, namun kepribadian unggulan mereka bisa ditiru. Kita tidak perlu repot-repot menciplak tampilan fisik, tapi sibukkanlah diri menyalin keindahan akhlaknya.

"Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah". (QS. 33:21) 

Ada alasan paling penting yang membuat Muhammad saw, belum tergoyahkan sebagai idola utama. Beliau satu-satunya manusia yang tingkah lakunya senantiasa diawasi dan dituntun langsung oleh Allah. Sehingga kesempurnaan kepribadian melekat pada dirinya.

Boleh jadi manusia biasa baik perangainya, tapi kekhilafannya juga tidak sedikit. Malahan tidak ada garansi bahwa dirinya diperingatkan langsung oleh Tuhan setiap terlanjur melakukan kekliruan. Jaminan mutu hanya ada pada diri Rasulullah.
Percayalah deh..!

Puisi Sebatang Akar

Aku adalah akar.....
Aku tak punya mahkota mewah layaknya bunga.
Warnakupun tak menarik untuk disanjung dan dipuja, serta aroma tubuhku tak pernah sewangi sang bunga yg sanggup memikat lebah, kumbang, burung kecil pengisap madu, bahkan manusia.

Aku memang bukan bunga...
Aku bukan bunga yg dapat meliuk gemulai seiring dg terpaan angin, lepaskan segenggam penat jagad nan padat.
Aku bukan bunga yg kerap jd inspirasi bagi para penggum seni.Aku juga bukan daun, yg tak kalah unik dr bunga, bentuk dan warna khasnya sering pula menjadi incaran.

Aku bukan daun yg melengkapi penampilan tarian bunga, mewakili sang bunga untk menghias batang2 pohon, dan pesona rimbunnya sanggup melepas lelah sang pengembara.

Aku adlh akar !
Aku tertimbun dibawah tanah, dan diatas sana ribuan kaki menginjakku tanpa tanpa sopan santun.
Jangankan untuk memuji rupaku, melirik saja tdk.
Aku memang tak kelihatan.
Bahkan kadang, wkt seprtinya terlalu sempit untk sekedar menganggapku ada. Aku nyaris terlupakan.

Aku memang hanya akar.
Ya, aku akar !
Tubuhku terdiri atas bulu2 halus detektor yg mendeteksi keberadaan air dan zat hara.
Juga pembuluh2 yg bertugas mengantar zat hara, untuk kemudian dimasak pd klorofil daun dlm proses fotosintesis, lantas hasil masakanya kelak diedarkan keseluruh organ tubuh, hingga sang pohon dpt bertahan hidup.

Aku akar..........
Aku tak perlu menjadi daun ataupun bunga, karena aku adalah akar !
Meski karena kumbang dan kupu2 itu tak pernah menghampiriku. Tak pula pernah kudengar sekelumit pujian untukku.
Tapi aku puas jadi akar.
Karena aku adalah akar yg selalu mencari air untk daun dan bunga.

Bahkan air untuk kelanggengan usia sang pohon.
Bukan hanya air setetes, melainkan ku ingin sedanau, bahkan sesamudra raya.
Setiap hari kujalani tugas mulia ini dg tulus.
Semoga selalu ada kabar gembira bagi daun dan bunga, sehingga bisa kutitipkan senyum bahagiaku untk awan putih dan langit tinggi.
Sampaikanlah salam manis buat semilir sejuk dan kupu2 cantik itu, dariku: Akar

Senin, 11 Maret 2013

Cinta

Cinta adalah salah satu kata yang paling populer dipergunakan oleh umat manusia dan dianggap paling penting. Cinta termasuk "kata yang disucikan" yang ternyata banyak orang salah menggunakan dan memahaminya, karena pengaruh informasi dan budaya barat yang hina. 

Ketika disebut oleh masyarakat barat, maka kata itu seringkali dikaitkan dengan "hubungan dosa" pranikah, atau yang tidak berakir dengan pernikahan, atau hubungan antara pria dan wanita tanpa ikatan hukum. Bagi mereka, "ungkapan cinta", berarti melakukan perbuatan nista alias zina, bagi yang belum menikah. Atau berarti juga hubungan seksual dengan segala macam pemanasannya bagi yang sudah menikah. 

Masyarakat Barat sangat menolak apabila Anda mengatakan: I Love You (aku mencintaimu). Sebab kata-kata ini hanya boleh didengar dari kekasih atau pasangan suami istri. 

Demukianlah mereka mengaitkan kata yang agung ini berikut penerapannya dengan nafsu syahwat dan keinginan seksual. Akibatnya kata yang agung ini di tolak oleh mereka yang masih suci, karena kata ini dikaitkan dengan kekejian, perbuatan cabul, dan kebiasaan rusak, yang dipublikasikan puluhan ribu sinetron, film, nyanyian, dan pertujukan yang mengetengahkan pemahaman cinta ala barat. 

Cinta, bagi kita (muslim), lebih tinggi dan mulia dari itu semua. Itulah cinta yang menyebabkan manusia masuk kedalam surga atau neraka. Jenis cinta tertingi adalah cinta kepada Allah. Mencintai Allah merupakan salah satu pokok keimanan. Seseorang tidak bisa disebut sebagai orang mukmin sehingga mencintai-NYA. 

Dari cinta kepada Allah ini, munculah cabang-cabang cinta yang dikenal luas oleh masyarakat manusia: 

Pertama, cinta kepada kedua orang tua. Sebab Allah swt telah memerintahkan melakukan hal ini dan menghubungkanya dengan ibadah. Cinta ini terkait pula dengan Allah, dimana cinta ini tidak boleh dilanjutkan ketika kedua orang tua menyimpang dari jalan-Nya dan menempuh jalan setan-dan itu merupakan prinsip wala' 'loyalitas' dan bara' 'keterbatasan'. Allah swt berfirman dalam Qs. al-Mujadalah : 22 yang artinya: 

"Kamu tidak akan mendapati suatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang itu adalah bapak, atau anak-anak, atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka." 

Kedua, cinta kedua orang tua kepada putra putrinya. Cinta inipun terkait erat dengan Allah swt. Sebab diantara keimanan seseorang ialah ia akan menghentikan cinta ini, manakala putra-putrinya memilih jalan yang sesat. Sebagaimana halnya Allah telah memberikan pemahaman mengenai prinsip ini, yaitu prinsip wala' dan bara', kepada rasul-Nya, Nuh, ketika rasa kasih sayang seorang ayah tergerak saat melihat putranya yang kafir akan tenggelam, lalu berteriak, "Wahai Rabbku, sesunuhnya anakku termasuk keluargaku, dan bahwa janji-MU pasti benar." 

Maka Allah menjawab, "Sesungguhnya dia bukanlah termasuk keluargamu (yang dijanjikan akan diselamatkan), sesungguhnya (perbuatanya) perbuatan yang tidak baik." 

Ketiga, cinta kepada istri. Cinta ini semakin melimpah manakala landasan cinta tersebut berdiri diatas landasan cinta kepada Allah. Cinta ini akan semakin bertambah setiap kali istri semakin dekat kepada Allah, dimana ia akan menjadi seindah-indah perhiasan dunia, sebagaimana yang diberitakan oleh nabi saw; 

"Dunia ini adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah wanita salehah." (HR.MUSLIM) 

Keempat, cinta fillah diantara para kekasih-Nya yang saleh yang bukan karena faktor nasab (keturunan), melainkan karena kesamaan aqidah. Jika salah seorang merasakan cinta ini maka ia tidak segan-segan memberitahukan kepada saudaranya yang seiman: "Aku mencintaimu fillah." 
Dan saudaranya menerima dengan senang hati hadiah agung ini, dan menjawab dengan ucapan, "Semoga Allah mencintaimu, karena engkau mencintaiku karena-Nya." Ia tahu bahwa dia mencintainya tidak mencintainya untuk kepentingan duniawi. Karena itu, ia berdoa untuknya semoga Allah mencintainya.

Rabu, 06 Maret 2013

Cinta Terkembang Jadi Kata

Selalu begitu. Cinta selalu membutuhkan kata. Tidak seperti perasaan-perasaan lain, cinta lebih membutuhkan kata lebih dari apapun. Maka ketika cinta terkembang dalam jiwa tiba-tiba kita merasakan sebuah dorongan yang tak terbendung untuk menyatakannya. Sorot mata takkan sanggup menyatakan semuanya.

Tidak mungkin memang. Dua bola mata kita terlalu kecil untuk mewakili semua makna yang membuncah di laut jiwa saat badai cinta datang. Mata hanya sanggup menyampaikan sinyal pesan bahwa ada badai di laut jiwa. Hanya itu. Sebab cinta adalah gelombang makna-makna yang menggores langit hati, maka jadilah pelangi; goresannya kuat, warnanya terang, paduannya rumit, tapi semuanya nyata. Indah.

Itu sebabnya ada surat cinta. Ada cerita cinta. Ada puisi cinta. Ada lagu cinta semuanya adalah kata. Walaupun tidak semua kata mampu mewakili gelombang makna-makna cinta, tapi badai itu harus diberi kanal; biar dia mengalir sampai jauh. Cinta membuat makna-makna itu jadi jauh lebih nyata dalam rekaman jiwa kita.

Bukan hanya itu. Cinta bahkan menyadarkan kita pada wujud-wujud lain disekitar kita; langit, laut, gunung, padang rumput, tepi pantai, gelombang, purnama, matahari, senja, gelap malam, cerah pagi, taman bunga, burung-burung... Tiba-tiba semua wujud itu punya arti... Tiba-tiba semua wujud itu masuk kedalam ke sadaran kita... Tiba-tiba semua wujud itu menjadi bagian dari kehidupan kita... Tiba-tiba semua wujud menjadi kata yang setia menjelaskan perasaan-perasaan kita... Tiba-tiba semua wujud itu berubah menjadi metafora-metafora yang memvisualkan makna-makna cinta. Itu sebabnya para pecinta selalu berubah menjadi sastrawan atau penyair atau penyanyi... Atau setida-tidaknya menyukai karya-karya para sastrawan, menyukai puisi, atau mau belajar melantunkan lagu. Bukan karena ia percaya bahwa ia akan benar-benar menjadi sastrawan atau penyair atau penyanyi yang berbakat... Tapi semata-mata ia tidak kuat menahan gelombang makna-makna cinta.

Cinta membuat jiwa kita jadi halus dan lembut... Maka semua yang lahir dari kehalusan dan kelembutan itu adalah juga makna-makna yang halus dan lembut... Hanya katalah yang dapat mengurainya, menjamahnya perlahan-lahan sampai ia tampak terang dalam imaji kita. Puisi "Aku Ingin" nya Sapardi Djoko Damono mungkin bisa jadi sebuah contoh bagaimana kata mengurai dan menjamah makna-makna itu... Apakah Sapardi sedang jatuh cinta atau sedang ingin memaknai kembali cintanya ? Saya tidak tahu ! Tapi begini katanya:

Aku ingin mencintaimu
dengan cara yang sederhana
kayu kepada api yang menjadikannya abu

Aku ingin mencintaimu
dengan cara yang sederhana
Awan kepada hujan yang menjadikannya tiada.